Tugu Titik Nol KM Wonosari yang Semakin Terlupakan

Sebagian masyarakat menyebut bahwa Titik Nol Kilometer di Gunungkidul semula berada di sebelah utara Pasar Argosari Wonosari. Sebuah tugu lawas yang di bagian atasnya terdapat sebuah jam dinding itu ditengarai merupakan titik pusatnya.

Ketua Dewan Budaya Gunungkidul CB Supriyanto mengatakan, Titik 0 Kilometer Gunungkidul pada masa lalu diyakini memang berada di sebelah utara Pasar Argosari. Hal tersebut ditentukan karena memang pusat pemerintahan pada waktu itu berada di kawasan tersebut, tepatnya berada di Bangsal Sewoko Projo.

“Tetapi adanya tugu kuno itu bukan sebagai tanda Titik 0 Kilometer. Tugu yang dibangun sekitar tahun 1914-an itu sebagai penanda bahwa di situ sebagai pusat pemerintahan, yang di kemudian waktu perkembangannya terdapat pula pasar dan terminal,” jelasnya.

Menurutnya, gaya tata ruang pusat kota zaman dahulu hampir selalu memiliki kesamaan. Secara umum di dekat pusat pemerintahan terdapat pasar, terminal, atau ditambah lagi ada tempat ibadah. Hal tersebut memang merupakan ciri khas.

Lanjutnya, dirinya mengaku tidak begitu paham apabila tugu yang pernah dipugar pada tahun 1977 itu disebut sebagai tanda titik nol kilometer. Dengan tegas dirinya menandaskan, tugu itu awalnya merupakan penanda pusat pemerintahan, pusat kota, dan fasilitas publik, adanya pasar atau terminal.

“Karena kemudian memang pusat pemerintahannya pindah, maka sekitar tahun 1984 (titik nol km) ikut bergeser di dekat Kantor Pos,” jelasnya. Lantas demi kebutuhan tata ruang dan perlunya melakukan pengukuran jarak, maka di dekat pusat pemerintahan baru dibuat tugu titik nol kilometer, karena di manapun pusat pemerintahan disitulah sebagai titik awal.

“Setelah pindah di Pemda barulah ada penyebutan titik nol kilometer. Kemudian untuk penamaan jalan disepakati apabila pahlawan dengan pangkat tinggi atau sekelas jenderal sebagai nama jalan protokol utama atau jalan induk,” kenang lelaki yang sempat menjadi sopir pada tahun 1973 ini.

Imbuh dia, sebelum menentukan perpindahan titik nol kilometer, diawali dengan pembangunan rumah dinas, alun-alun, barulah kantor pemerintahan.

“Mengacu di Yogyakarta, karena dahulu didasarkan pada pusat pemerintahan Kraton, maka berada di seputar Kantor Pos, tidak di Kepatihan. Begitu juga dengan Gunungkidul kemungkinan ada kemiripan demikian, selain di titik pusat pemerintahan juga dekat Kantor Pos,” tambahnya.

Seksi Pembangunan Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum (DPU), G Prapto Hartono BE, ketika ditanya mengenai historis Titik 0 KM mengaku tidak begitu tahu. Untuk keterkaitannya dengan seputar jalan, DPU berkontribusi dalam hal pemeliharaan jalan, tiap semester melakukan pemeriksaan kondisi jalan. Dalam hal penentuan titik 0 kilometer, pihaknya mengaku tidak terlibat.

Jelas dia, fungsi mengenai Titik 0 KM yakni sebagai penghitungan jarak jaringan jalan antara wilayah satu dengan wilayah lain, tetapi penentuan titik alamat pada jarak kilometer tertentu pada ruas jalan tidak selalu dihitung dari Titik 0 Kilometer di depan alun-alun tersebut.

“Penentuan titik alamat dihitung dari simpul pertemuan dari dua jenis jalan. Misalnya dari pertemuan antara jalan propinsi dengan jalan kabupaten, hal ini tentu melihat dari status atau jenis jalan juga,” terangnya.

Sementara itu, Kasubbid Sarana dan Prasarana Wilayah, Bidang Fisik dan Prasarana Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Gunungkidul, Wastoyo ST, menambahkan, titik nol sebagai penghitungan jarak satu lokasi ke lokasi lain, terutama konteksnya jalan nasional, misalnya dari Yogya ke Wonosari.

“Fungsinya sebagai titik ikat jarak antara wilayah satu dengan wilayah lain. Diawali pertama kali adanya SK penetapan status jalan, lantas titik nol dibutuhkan ketika adanya kebutuhan untuk mengukur jarak,” papar Wastoyo.

Sambung dia, masyarakat awam sebelum ada kepentingan mengukur jarak tentu tidak mungkin menentukan titik 0 kilometer, barangkali mulai ditetapkan setelah ada penentuan SK jaringan jalan. Ketentuan mengenai penentuan titik lokasi nol kilometer tidak ada kriteria atau aturan khusus, tetapi umumnya berada di dekat pusat pemerintahan.

Ikut memberikan komentar, seniman seni rupa Herland menyayangkan perpindahan titik nol kilometer di Gunungkidul. Kata dia, Titik Nol yang dia tahu di kota Wonosari dimulai dari Taman Parkir, yang dulu masih disebut stanplat (terminal lama), dan awal dimulainya perkembangan pemerintahan, ekomomi, sosial, dan budaya.

“Sisa-sisa bukti masih ada, maka sangat gegabah orang yang merubah Titik Nol, karena jelas bahwa sekarang banyak nilai-nilai historis yang mulai dihilangkan. Ini melambangkan minimnya wawasan budaya. Maka jangan heran anak-anak kita menjadi lali sopo aku sopo siro,” urai Herland. (Kandar).

Facebook Comments