home Wisata Karimunjawa: Tak Ada Petunjuk Destinasi Wisata Yang Menyesatkan

Karimunjawa: Tak Ada Petunjuk Destinasi Wisata Yang Menyesatkan

Wisatawan menikmati sunset di Pantai Ujung Gelam, Karimunjawa.

Medio Agustus lalu saya mendapat kesempatan mengunjungi Pulau Karimunjawa, di Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah. Bisa dibilang perjalanan waktu itu merupakan hadiah dari tempat kerja. Untuk urusan pariwisata Karimunjawa memang tempatnya. Tak hanya menjadi rujukan travelling bagi wisatawan domestik namun juga bagi wisatawan manca.

Pulau yang mendapat julukan The Paradise of Java ini memang masih sangat alami dan asri. Udara sejuk dan bersih, masyarakat yang ramah, serta aneka wisata alam dengan panorama indah memanjakan serta membuat betah setiap pelancong yang datang.

Bersama rekan, dari Yogyakarta saya melakukan perjalanan menggunakan mobil jasa travel menuju ke Pelabuhan Kartini, Jepara. Biaya transportasi Yogya-Jepara sebesar Rp. 125 ribu tiap orang. Kemudian dari pelabuhan Kartini transportasi menuju Pulau Karimunjawa ditempuh menggunakan kapal laut. Terdapat dua jenis kapal yang melayani transportasi penyeberangan, yakni kapal cepat atau expres dan kapal fery KMP Siginjai. Kapal cepat membutuhkan waktu selama sekitar 2 jam, sementara Siginjai butuh 5 hingga 6 jam waktu perjalanan. Kapal Siginjai memiliki ukuran yang besar, sepeda motor, mobil dan truk dapat diangkut olehnya.

Wisatawan yang berkunjung ke Karimunjawa mau tidak mau harus menginap atau bermalam. Hal ini karena tidak ada transportasi yang melayani keberangkatan dan kepulangan pada hari yang sama. Transportasi udara yang ada di Desa Kemojan, Kecamatan Karimunjawa memiliki intensitas atau jadwal penerbangann yang masih sangat terbatas.

Tidak jauh dari dermaga Kapal, tepatnya di Desa karimunjawa banyak terdapat home stay yang disediakan oleh masyarakat. Selain itu hotel dan penginapan dengan kapasitas sedang hingga besar juga telah tersedia. Harga satu kamar home stay dipatok mulai dari Rp. 100 ribuan untuk satu hari satu malam.

Destinasi wisata di Karimunjawa memang cukup beragam, akan tetapi jenis wisata bahari mejadi yang paling dominan. Berbicara pariwisata, antara Karimunjawa dengan Gunungkidul memiliki kemiripan, yakni jenis wisatanya sama-sama didominasi oleh wisata pantai.

Berada di Karimunjawa selama seminggu, tak banyak destinasi yang kami kunjungi. Beberapa kali kami memilih mengunjungi pantai favorit wisatawan saja. Diantaranya deretan pantai mulai dari Pantai Ujung Gelam hingga Pantai Batu Topeng di Desa Karimunjawa. Pantai di Karimunjawa berupa pantai pasir putih halus dengan ombak yang tergolong landai dan jinak sehingga sangat nyaman untuk bermain air.

Selain bermain air, di pantai-pantai tersebut turis hobi berjemur. Mereka datang sejak siang menjelang sore. Di kawasan pantai, daya tarik lain yakni berupa indahnya momentum mentari terbenam dengan pelan, seolah tenggelam ke dalam laut. Pendaran cahaya merah keemasan memberikan sensasi yang luar biasa.

Hingga saat ini telah terdapat belasan hingga puluhan destinasi yang dikembangkan di Karimunjawa. Diantaranya Kolam Hiu di Desa Karimunjawa (Pulau Menjangan Besar), Legon Lele di Desa Karimunjawa (Pulau Karimunjawa, Bukit Love di Desa Karimunjawa (Pulau Karimunjawa), Bukit Nyamplungan di Desa Karimunjawa (Pulau Karimunjawa), Bukit Joko Tuo, di Desa Karimunjawa (Pulau Karimunjawa), Tracking Hutan Mangrove di Desa Kemojan (Pulau Kemujan), Pantai Batu Karang Pengantin di Desa Kemojan (Pulau Kemujan), Pantai Barakuda di Desa Kemojan (Pulau Kemujan) serta Pantai Nirwana di Desa Karimunjawa (Pulau Karimunjawa).

Tidak jauh dari dermaga pemberhentian kapal, pihak terkait membuat peta titik-titik kawasan wisata. Selain itu di setiap persimpangan jalan utama juga dilengkapi dengan papan penunjuk arah menuju destinasi wisata.

Warga masyarakat di Karimunjawa sebagian bermata pencaharian sebagai petani, diantaranya juga menjadi nelayan. Begitu ramainya wisatawan banyak juga masyarakat yang menggeluti usaha bidang pelayanan pariwisata. Mulai dari penyediaan jasa penginapan, jasa penyeberangan antar pulau menggunakan kapal, menjadi guide, jasa pemanduan diving, senorkeling dan lainnya.

Pelayanan pariwisata cukup baik. Selain papan penunjuk arah yang dibuat dinas pariwisata, tidak ada masyarakat atau penyedia jasa kepariwisataan yang sengaja membuat papan penunjuk arah tambahan yang menyesatkan, atau dengan kata lain agar para wisatawan tergiring masuk memanfaatkan jasa layanan usaha bidang pariwisata yang dijalankan oleh sekelompok warga.

Masyarakat memang menawarkan paket jasa pelayanan wisata namun tidak ada para penyedia jasa layanan wisata tersebut yang mengejar-ngejar wisatawan saat turun dari kapal. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan di Gunungkidul, khususnya untuk pelayanan wisata di destinasi wisata Goa Pindul. Selain banyak rambu penunjuk arah menyesatkan menuju pindul, hingga saat ini masih saja ditemui jasa antar/ joki menuju Pindul yang mengejar pengendara di jalan raya yang dianggap akan ke Pindul.

Hal tersebut selain berbahaya juga dapat mengecewakan para wisatawan. Penunjuk arah yang dibuat ternyata menuju basecamp pelayanan jasa antar, selain membuat bingung wisatawan hal semacam itu cenderung terkesan memaksa agar wisatawan memanfaatkan jasa antar/ joki. Berkaca pada Karimaunjawa, mestinya Gunungkidul juga bisa melakukan hal yang sama. Spirit memberikan pelayanan wisata yang ramah, sopan dan semaksimal mungkin menghindari kekecewaan wisatawan dapat menjadikan Gunungkidul semakin diminati.

Sebuah pelayanan wisata yang mengedepankan kenyamanan, akan menghadirkan kepuasan bagi wisatawan. Selama kekecewaan demi kekecewan wisatawan masih terjadi musykil kunjungan wisatawan naik dengan pesat. Kita tahu, kunjungan wisatawan asing di Karimunjawa cukup tinggi, lalu giliran Kabupaten Gunungkidul semoga tak lama lagi. (Knd)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *