Batik Tancep: Batik Khas dari Kawasan Utara Gunungkidul

oleh

“Batik with Natural Dyes” itulah tema dasar yang diusung sentra industri batik yang berada di Dusun Sumberan, Desa Tancep, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul. Ya, melihat batik hasil karya Mas Darudi dkk memang sangat terlihat warna-warna alami yang digoreskan pada hasil industri rumah tangga tersebut. Selain warna-warna dengan bahan pewarna getah berbagai buah dan tumbuhan, terlihat motif batik yang dihasilkan memang khas. 

Jumlah produksi batiknya memang masih terbatas, karena ia memang menekuni proses produksi batik secara tradisional. Meski demikian, pesanan ke sentra industri batik “hand made” ini terus mengalir. Para pemesan biasanya datang langsung ke desa yang berada di sebelah utara bukit penanda batas antara Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Klaten. Peminat “Batik Tancep” pada saat ini memang lebih banyak dari para penikmat atau kolektor batik. Harga satu lembar kain batik berkisar antara 600 ribu rupiah sampai dengan 2 juta rupiah, bergantung kepada desain, kerumitan pengerjaan dan jumlah seri produksi yang terbatas.

Sentra industri Batik Tancep saat ini juga sedang mengerjakan produksi massal pesanan dari Pemkab Gunungkidul. Yaitu batik untuk seragam khas Gunungkidul, yang dikenal sebagai “Batik Walang”. Produksi massal dilakukan dengan teknologi printing (batik cap-capan).

Darudi, wirausaha muda Dusun Sumberan Tancep Ngawen saat ini bisa mempekerjakan sekitar 30 tenaga kerja. Ia baru memulai usaha ini sekitar 4 tahun yang lalu. Sungguh sebuah pencapaian yang luar biasa hebat menurutku. Mengapa? Dari sebuah dusun kecil di perbatasan Gunungkidul – Klaten terlahir sebuah ide brilian seorang anak muda yang mampu menggerakkan roda perekonomian desa.

(Jjwidiasta, 25 April 2014)