Berbagai Varian Produk Sentra Industri Gula Jawa Banyusoca

oleh

Meski terpencil, Desa Banyusoca di ujung barat daya Kecamatan Playen dikenal sebagai sentra industri gula Jawa. Terdapat tiga padukuhan di desa ini yang menjadi sentra penghasil gula jawa, di antaranya Padukuhan Gedad, Sawah Lor, dan Klepu.

Siti Thoyibah, salah satu pelaku industri gula Jawa di desa ini menceritakan, kebiasaan membuat gula Jawa oleh masyarakat setempat telah berlangsung sejak puluhan tahun silam. Pembuatan gula Jawa telah turun temurun diwariskan dari generasi ke generasi.

Hal ini ditunjang karena sebagian besar warga di wilayah ini memang memanfaatkan tanah pekarangannya untuk menanam pohon kelapa. Banyaknya pohon kelapa sehingga potensi nira yang dihasilkan sebagai bahan baku gula Jawa cukup tersedia.

Siti mengaku, produk yang dihasilkan awalnya hanya gula Jawa saja. Pun demikian dengan penjualannya, gula Jawa dipasarkan sebatas menjangkau beberapa wilayah terdekat, serta sebagian kecil ke Pasar Playen. Barulah sekitar tahun 2009 beberapa warga berinisiatif untuk mendongkrak penjualan produk gula Jawa dengan meningkatkan produksi dan mengembangkan berbagai varian produknya.

Seperti yang dirintis Siti, beberapa cara yang telah ditempuh. Di antaranya dengan mencoba membuat produk turunan dari bahan baku gula Jawa, lantas diikuti dengan melakukan pengembangan pasar. Saat satu, dua jenis produk mulai dibuat, proses menawarkan produk keluar juga gigih dilakukan.

“Berproses, waktu itu mencoba produk jenis baru terus dilakukan. Sementara kami juga mendapat fasilitas dampingan dari LSM dan instansi pemerintah untuk pengenalan produk secara lebih luas. Di antaranya mengikuti pameran,” urai Siti.

Jihan Astuti, manajer marketing produk industri di desa tersebut menambahkan, kelengkapan syarat atau legalitas sebuah badan usaha yang bergerak dibidang pangan juga dilengkapi. Semakin banyaknya jenis produk yang mampu dibuat, saat ini tidak hanya mengandalkan produk gula Jawa buatan sendiri sebagai bahan baku.

“Kami menampung gula Jawa buatan 20-an warga di Padukuhan Gedad. Sejak tahun 2012 beberapa produk yang kami hasilkan di antaranya; gula kunyit asem, gula jahe, gula kencur, gula kunir putih, dan gula temu lawak. Semua produk itu cara konsumsinya dibuat menjadi minuman seduh,” rinci Jihan. Sedangkan untuk produk camilan berbahan dasar kelapa muda, yakni ada gula semut dan ingah ingih.

Bahan baku gula Jawa yang dibuat menjadi produk dengan branding Nira Sari tersebut dibeli dari warga penderes nira dengan rata-rata harga antara Rp 15 hingga 17 ribu setiap kilonya. Jihan menyebutkan, nira yang diambil dari bunga kelapa oleh penderes, untuk setiap 10 liter nira dapat diolah menjadi 2,5 kilogram gula Jawa.

Lanjut dia, proses pembuatannya diawali dengan merebus air nira hingga mengental. Kemudian setelah itu diangkat lalu diaduk lantas langsung dimasukkan ke dalam cetakan tempurung kelapa. Untuk ukuran gula Jawa yang lebih kecil memakai cetakan khusus.

Lebih jauh disampaikan, mengenai cara pembuatan produk turunan gula Jawa secara garis besar memiliki kesamaan proses. Misalnya saja gula jahe, dimulai dengan penggilingan jahe untuk diambil airnya. Lantas air sari jahe tersebut direbus bersama gula jawa ditambah beberapa rempah-rempah di antaranya cengkeh kapulaga dan serai. Kemudian setelah mengental dimasukkan ke cetakan.

“Setiap setengah kilogram sari jahe dibutuhkan 2 kilogram gula Jawa. Berkat keberhasilan pengembangan produk tersebut dapat menyerap sekaligus memperlancar penjualan gula jawa yang dihasilkan warga,” jelas Jihan mengakhiri perbincangan.

(Kandar, KH, 27 Desember 2016)