Selayang Pandang Gunungkidul

Selamat datang di Gunungkidul!

Selamat datang di wilayah gunung-gemunung batuan kapur seluas 1.485 km2 dan dihuni 698.825 penduduk (2014) yang terletak di sebelah timur Kota Yogyakarta. Secara administratif wilayah Kabupaten Gunungkidul yang terbagi dalam 18 wilayah kecamatan dan 144 desa ini termasuk dalam wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Wilayah Kabupaten Gunungkidul yang mencapai kurang lebih 47% dari luas wilayah DIY secara fisiografis terbagi dalam 3 kawasan, yaitu: 1) Kawasan Utara yang berkontur perbukitan bertanah relatif subur disebut Zone Batur Agung, 2) Kawasan Tengah yang konturnya relatif datar bertanah relatif subur disebut Zone Ledok Wonosari, dan 3) Kawasan Selatan yang konturnya dominan berupa kerucut-kerucut bukit kapur dengan tanah permukaan relatif kering yang disebut Zone Gunung Sewu.

Sebagian besar penduduk wilayah Kabupaten Gunungkidul bekerja pada sektor pertanian. Selebihnya bekerja di sektor industri rumah tangga, dan sektor perdagangan dan jasa. Pertanian telah menjadi tumpuan utama masyarakat Gunungkidul secara turun-temurun. Kegigihan masyarakat dalam bercocok tanam dan mempertahankan lapis tipis tanah di hamparan pegunungan kapur ini dengan sistem galengan atau terasering ini telah menjadi salah satu warisan  teknologi kawasan karst yang diakui oleh UNESCO dalam bentuk UNESCO Global Geopark Gunungsewu.

Sisi lain sebagai wilayah pertanian pegunungan kapur dengan kepemilikan lahan pertanian per kepala keluarga yang tidak seberapa luas juga telah menjadikan sebagian besar warga di wilayah ini bermigrasi, berpindah ke tempat lain untuk mengusahakan kehidupan secara menetap atau menjadi perantau yang pada waktu-waktu tertentu pulang ke kampung halamannya. Ada ribuan warga Gunungkidul yang merantau ke kota-kota besar dengan berbagai bidang pekerjaan yang ditekuni.

Bukti-bukti arkeologis menunjukkan, kawasan pegunungan ini ditengarai telah menjadi hunian manusia-manusia pra sejarah. Beberapa situs purbakala di sepanjang lembah aliran Sungai Oya menunjukkan keberadaan tulang belulang, perhiasan, perkakas, dan juga kubur batu dari jaman prasejarah tersebut. Demikian pula temuan fosil di goa-goa pegunungan Selatan menunjukkan hal yang serupa.

Foklor yang berkembang luas di wilayah Gunungkidul sebagian besar menunjukkan bahwa masyarakat Gunungkidul meyakini asal-usul mereka sebagai bagian dari sisa-sisa masyarakat Majapahit yang tercerai-berai dan mengungsi karena runtuhnya kerajaan besar tersebut.

Dalam sejarah asal-usul Kabupaten Gunungkidul yang disusun oleh Pemerintah Kabupaten Gunungkidul disebutkan, semula wilayah Gunungkidul diyakini masih berupa hutan belantara. Terdapat suatu desa yang dihuni beberapa orang pelarian Kerajaan Majapahit, desa yang dipimpin oleh R. Dewa Katong saudara Raja Brawijaya tersebut bernama Pongangan.

Setelah R Dewa Katong pindah ke Desa Katongan 10 km utara Pongangan, puteranya yang bernama R. Surameja membangun desa Pongangan, sehingga semakin lama semakin ramai. Beberapa waktu kemudian, R. Suromeja pindah ke Karangmojo. Perkembangan penduduk di daerah Gunungkidul itu didengar oleh raja Mataram Sunan Amangkurat Amral yang berkedudukan di Kartasura. Kemudian Ia mengutus Senopati Ki Tumenggung Prawirapeksa agar membuktikan kebenaran berita tersebut. Setelah dinyatakan kebenarannya, Tumenggung Prawiropekso menasehati R. Surameja agar meminta ijin pada raja Mataram, karena daerah tersebut masuk dalam wilayah kekuasaannya.

Karena R. Surameja tidak mau, akhirnya terjadilah peperangan yang mengakibatkan R.Surameja tewas. Begitu juga 2 anak dan menantunya. Ki Pantjadirja yang merupakan anak R Surameja akhirnya menyerahkan diri, oleh Pangeran Sambernyawa diangkat menjadi Bupati Gunungkidul I.

Bupati Mas Tumenggung Pantjadirja tidak lama menjabat karena adanya penentuan batas-batas daerah Gunungkidul antara Sultan dan Mangkunegara II pada tanggal 13 Mei 1831. Gunungkidul (selain Ngawen sebagai daerah enclave Mangkunegaran) menjadi kabupaten di bawah kekuasaan Kasultanan Yogyakarta. Mas Tumenggung Pantjadirja diganti Mas Tumenggung Prawirasetika, yang mengalihkan kedudukan kota kabupaten dari Ponjong ke Wonosari.

Menurut Mr R.M Suryodiningrat dalam bukunya ”Peprentahan Praja Kejawen” yang dikuatkan buku de Vorstenlanden terbitan 1931 tulisan G.P Rouffaer, dan pendapat B.M.Mr.A.K Pringgodigdo dalam bukunya Onstaan En Groei van het Mangkoenegorosche Rijk, berdirinya Gunungkidul (secara administrasi) pada tahun 1831 atau setahun seusai Perang Diponegoro, bersamaan dengan terbentuknya kabupaten lain di Yogyakarta. Disebutkan bahwa”Goenoengkidoel, wewengkon pareden wetan lepen opak. Poeniko siti maosan dalem sami kaliyan Mantjanagari ing jaman kino, dados bawah ipun Pepatih Dalem. Ing tahoen 1831 Nagoragung sarta Mantjanagari-nipoen Ngajogjakarta sampoen dipoen perang-perang, Mataram dados 3 wewengkon, dene Pangagengipoen wewengkon satoenggal-satoenggalipoen dipoen wastani Boepati Wadono Distrik kaparingan sesebatan Toemenggoeng, inggih poeniko Sleman (Roemijin Denggoeng), Kalasan serta Bantoel. Siti maosan dalem ing Pengasih dipoen koewaosi dening Boepati Wedono Distrik Pamadjegan Dalem. Makanten oegi ing Sentolo wonten pengageng distrik ingkang kaparingan sesebatan Riya. Goenoengkidoel ingkang nyepeng siti maosan dalem sesebatan nipoen Riya.”

Panitia Pelacak Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul pada tahun 1984 menyimpukan bahwa Kabupaten Gunungkidul dengan Wonosari sebagai pusat pemerintahan lahir pada hari Jumat Legi tanggal 27 Mei 1831 atau 15 Besar Je 1758 dan dikuatkan dengan Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Gunungkidul No : 70/188.45/6/1985 tentang Penetapan hari, tanggal bulan dan tahun Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul yang ditetapkan oleh Bupati Gunungkidul pada tanggal 14 Juni 1985.

Guna mengabadikan Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul dibangun prasasti berupa tugu di makam bupati pertama Mas Tumenggung Pantjadirja dengan bertuliskan Surya sangkala dan Candra sangkala berbunyi : NYATA WIGNYA MANGGALANING NATA ” HANYIPTA TUMATANING SWAPRAJA” Menurut SuryA sangkala tahun 1831 dibalik 1381, sedang Candra sangkala 1758 dibalik 8571.

 

Facebook Comments